PENCAPAIAN PEMBANGUNAN KESEHATAN
A. DERAJAT KESEHATAN
1. Kecenderungan
Umur Harapan Hidup (UHH)
UHH dijadikan dasar untuk
mengetahui berapa lama orang dapat hidup sejak lahir. Peningkatan UHH
mencerminkan adanya perbaikan tingkat kesehatan penduduk, sedangkan tingkat
kesehatan yang baik akan membawa peningkatan kesejahteraan penduduk.
Berdasarkan
indikator-indikator peningkatan derajat kesehatan masyarakat lainnya, UHH di UPTD
Puskesmas Indihiang Kota Tasikmalaya tahun 2009 rata-rata berumur sampai dengan tahun, keadaan
ini sudah diatas rata-rata Kota Tasikmalaya yaitu 64,3 tahun. Indikator makro
pembangunan lainnya adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dimana untuk wilayah
UPTD Puskesmas Indihiang Kota Tasikmalaya pada
tahun 2009 angka IPM sudah mencapai yang berarti sudah tergolong cukup
baik.
2. Angka
Kematian
Kesehatan masyarakat pada
dasarnya menyangkut semua segi kehidupan manusia yang ruang lingkup
jangkauannya sangat luas. Pada saat ini perwujudan dari manusia yang sehat
menurut Badan kesehatan Dunia (WHO) tidak hanya berarti bebas dari penyakit
tetapi juga berarti keadaan yang sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang
memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Jadi
orientasi upaya kesehatan yang semula berupa upaya penyembuhan penderita,
secara berangsur-angsur berkembang ke arah upaya kesehatan untuk seluruh
masyarakat dengan memelihara dan meningkatkan kesehatan yang dilakukan oleh
pemerintah dan atau masyarakat. Upaya ini bersifat terpadu, menyeluruh dan
berkesinambungan.
Indikator yang sering
digunakan untuk menilai tingkat kesejahteraan penduduk adalah tingkat kematian.
Secara umum tingkat kematian berhubungan erat dengan tingkat kesakitan, karena
biasanya merupakan akumulasi akhir dari berbagai penyebab kematian. Beberapa
Angka Kematian yang sering digunakan sebagai indikator adalah Angka Kematian
kasar (Crude Death Rate/CDR), Angka
Kematian Bayi (Infant Mortality Rate/IMR),
angka Kematian Anak Balita (Child
Mortality rate/CMR) dan angka Kematian Ibu bersalin (Maternal Mortality rate/MMR).
a.
Angka
Kematian Kasar (CDR)
Angka Kematian Kasar (Crude
Death Rate) dapat digunakan sebagai petunjunk umum status kesehatan masyarakat,
kondisi kesehatan di dalam masyarakat secara tidak langsung menggambarkan
kondisi lingkungan ekonomi, fisik & biologis. Angka Kematian Kasar menjadi
dasar perhitungan laju pertambahan penduduk walaupun penilaian yang diberikan
secara kasar dan tidak langsung.
Angka Kematian kasar
Propinsi Jawa Barat cenderung menurun dari tahun ke tahun. Menurut Biro Pusat
Statistik propinsi Jawa Barat, perkiraan tingkat kematian tahun 2000-2005 untuk
perempuan berkisar sebesar 20,59 dan laki-laki 20,19.
b.
Angka
Kematian Bayi (AKB)
Angka Kematian Bayi
atau Infant Mortality Rate (IMR)
adalah jumlah kematian bayi dibawah usia 1 tahun pada setiap 1.000 kelahiran.
Angka ini merupakan salah satu indikator yang sensitif terhadap ketersediaan,
pemanfaatan dan kualitas pelayanan kesehatan terutama pelayanan perinatal.
Disamping itu AKB juga mempunyai hubungan dengan pendapatan keluarga, jumlah
anggota keluarga, pendidikan ibu dan gizi keluarga. Angka ini juga merupakan
indikator yang terbaik untuk menilai pembangunan sosial ekonomi masyarakat
secara menyeluruh.
Untuk tahun 2010
Angka Kematian menurut Kantor Statistik Kota Tasikmalaya belum ada data yang
baru, tetapi jumlah kelahiran bayi di UPTD Puskesmas
Indihiang Kota Tasikmalaya sebanyak 658 bayi, jumlah bayi lahir mati
sebanyak 4 bayi. Untuk itu program
penurunan Jumlah Kematian Bayi di UPTD Puskesmas
Indihiang Kota Tasikmalaya harus terus dilakukan baik itu oleh
pemerintah Kota Tasikmalaya pada umumnya, maupun khususnya yang dilakukan oleh
jajaran Dinas kesehatan kota Tasikmalaya.
c.
Angka Kematian Anak Balita (CMR)
Angka Kematian Balita (0-4 tahun) adalah jumlah anak bayi dan
balita yang meninggal sebelum belum berumur 4 tahun tiap per 1.000 balita.
Angka Kematian Bayi ini disamping menggambarkan keberhasilan program KIA, juga
menggambarkan keadaan faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap
kesehatan balita seperti Gizi, Sanitasi, Penyakit Menular dan kecelakaan. Dalam
arti luas indikator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan sosial dan tingkat
kemiskinan penduduk. Angka Kematian anak Balita untuk tahun 2009 belum bisa
disajikan.
Sedangkan berdasarkan
laporan dari Program KIA di UPTD Puskesmas Indihiang
Kota Tasikmalaya tahun 2010
jumlah kematian balita didapat sebesar 4 balita.
d.
Angka
Kematian Ibu
Angka Kematian Ibu
Bersalin atau Maternal Mortality Rate
(MMR) menunjukkan banyaknya Ibu Hamil atau Ibu Bersalin yang meninggal pada
setiap 1.000 kelahiran hidup. Angka ini berguna untuk menggambarkan status gizi
dan kesehatan ibu, kondisi kesehatan lingkungan serta tingkat pelayanan
kesehatan terutama ibu pada saat hamil, melahirkan dan masa nifas.
Menurut hasil
pencatatan program KIA UPTD Puskesmas Indihiang
Kota Tasikmalaya menunjukkan jumlah kematian ibu maternal pada
tahun 2010 sebanyak 0 orang.
Adapun rincian
kematian ibu maternal dapat dilihat pada tabel 4.1 di bawah ini.
Kematian Ibu Maternal
UPTD Puskesmas Indihiang Kota
Tasikmalaya Tahun 2010
No
|
Kematian
Ibu Maternal
|
Jumlah
|
1.
|
Kematian Ibu Hamil
|
0
|
2.
|
Kematian Ibu Bersalin
|
0
|
3.
|
Kematian Ibu Nifas
|
0
|
|
Jumlah Kematian Ibu Maternal
|
0
|
Sumber Data :
Laporan Program UPTD Puskesmas Indihiang Kota Tasikmalaya
Th. 2010
3. Angka
Kesakitan (Morbiditas)
a. Pola penyakit rawat jalan di UPTD Puskesmas
Indihiang Kota Tasikmalaya
Pola penyakit rawat jalan di UPTD Puskesmas
Indihiang Kota Tasikmalaya tahun 2010 tidak banyak mengalami
perubahan dari tahun-tahun sebelumnya di mana penyakit infeksi masih menjadi
masalah utama di masyarakat. Rincian
10 penyakit terbanyak pada tahun 2010 dapat dilihat pada
tabel 4.2 berikut ini :
10 Besar Penyakit Penderita
Rawat Jalan
UPTD Puskesmas
Indihiang Kota
Tasikmalaya
untuk Semua Golongan Umur di
Kota Tasikmalaya
Tahun 2010
No
|
Jenis Penyakit
|
Jumlah
|
1.
|
Common
Cold
|
3929
|
2.
|
ISPA
|
4252
|
3.
|
Gastritis
dan gastroduodenitis
|
1558
|
4.
|
Dermatitis
|
1115
|
5.
|
Myalgia
|
1749
|
6.
|
Diare
& Gastroenteritis
|
715
|
7.
|
Hipertensi
Primer
|
1528
|
8.
|
Skabies
|
389
|
9.
|
Asma
|
315
|
10.
|
Abses
|
171
|
Sumber : LB 1,
SP3 UPTD Puskesmas Indihiang Kota
Tasikmalaya Th. 2010
b.
Pola
Penyakit yang Diamati
1.Penyakit Menular
(a) Penyakit Menular bersumber binatang
-
Penyakit
malaria merupakan penyakit yang masih endemis di Jawa Barat. Selama tahun 2010
di UPTD Puskesmas Indihiang Kota Tasikmalaya berdasarkan laporan dari Pengelola Program Puskesmas
tidak ditemukan kasus malaria.
-
Penyakit
Demam Berdarah Dengue di UPTD Puskesmas Indihiang
Kota Tasikmalaya pada tahun 2010 ada sebanyak 10 kasus.
-
Penyakit
Filariasis
pada tahun 2010 ditemukan 0 kasus.
(b)
Penyakit Menular Langsung
-
Diare
Jumlah
kasus diare tahun 2010 di UPTD Puskesmas Indihiang
Kota Tasikmalaya ada sebanyak 715. Sebagai upaya
pencegahan atau penurunan angka diare, intervensi harus dilakukan terhadap
aspek yang menjadi penyebab utama diare yaitu dengan cara memperbaiki kondisi
sanitasi lingkungan dan hygiene perorangan serta pengelolaan makanan.
-
Kholera
Pada
tahun 2010
menurut laporan dari Pengelola program Puskesmas tidak ditemukan kasus kholera.
-
Disentri
Jumlah
penyakit disentri berdasarkan laporan dari Pengelola Program Puskesmas pada
tahun 2010 ada sebanyak 0 kasus.
-
Typhoid
Jumlah
penyakit typhoid berdasarkan laporan dari Pengelola Program Puskesmas pada
tahun 2010 ada sebanyak 0 kasus.
-
Pneumonia
Pada
tahun 2010 terdapat sebanyak 0 penderita pneumonia dan adalah penderita balita.
-
Kusta
Pada
tahun 2010 tidak ditemukan kasus kusta..
-
Tuberkulosis Paru
Jumlah
penderita tuberkulosis paru yang diobati pada tahun 2010 ada penderita TB Paru dengan BTA (+) sebanyak 16,
diobati sebanyak 43 orang dan yang dinyatakan sembuh pada tahun 2010 ada
sebanyak 8 orang.
2.Penyakit Tidak Menular
-
Jantung dan pembuluh darah
Tidak
ada data.
-
Neoplasma 2 kasus
-
Diabetes Mellitus
Penderita
Diabetes Mellitus berdasarkan laporan dari Pengelola Program Puskesmas tahun 2010
ada sejumlah 6
orang.
-
Hipertensi
Pada
tahun 2010 hipertensi dilihat dari semua golongan umur dengan jumlah penderita
sebanyak 1528.
-
Susunan Saraf
Tidak
ada data.
-
Jiwa
Penyakit
jiwa (gangguan mental dan perilaku) sebanyak penderita di Puskesmas mengalami peningkatan
dari tahun sebelumnya ( penderita). Yang termasuk dalam kategori penyakit
jiwa ini adalah gangguan emosi (neurotik), gangguan jiwa disebabkan penggunaan
obat & psikotropika dan Skizofrenia.
-
Katarak
Jumlah
penyakit katarak selama tahun 2010 berdasarkan laporan dari Pengelola Program Puskesmas
ada sebanyak 3 penderita.
-
Gangguan fungsi hati
Tidak
ada data
-
Anemia
Tidak
ada data
3. Penyakit Non Infeksi
Secara umum pola penyakit di masyarakat
mengalami perubahan dari penyakit infeksi ke penyakit degeneratif. Berikut ini
tabel mengenai Identifikasi Penyakit non Infeksi dan Kecenderungannya :
Identifikasi
Penyakit Non Infeksi dan Kecenderungannya
Tahun 2010
No
|
Penyakit Non Infeksi
|
Jumlah
|
1
|
Hipertensi
|
1528
|
2
|
Diabetes Mellitus
|
3
|
3
|
Karies
Gigi
|
|
4
|
Penyakit
pulpa/periapikal
|
|
5
|
Abortus
|
|
6
|
Anemia
|
|
Sumber data: SP3 UPTD Puskesmas Indihiang
Kota Tasikmalaya Th. 2010
4. Status Gizi
Status gizi pada balita merupakan faktor
penting dalam upaya menurunkan angka kematian balita. Selain itu status gizi
pada balita sangat menentukan terhadap tingkat kecerdasan sumber daya manusia
pada tahun mendatang. Masalah utama gizi masyarakat di Indonesia masih diwarnai
masalah BBLR (Berat Badan Lahir Rendah), KEP (Kurang Energi Protein), GAKY
(Gangguan Akibat Kekurangan Yodium), AGB (Anemia Gizi Besi) dan KVA (Kekurangan
Vitamin A)
4.1. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah
(BBLR)
Yang dimaksud dengan BBLR adalah Bayi
dengan berat badan pada saat lahir kurang dari 2.500 gram. Menurut laporan dari
Pengelola Program GIZI, dari sejumlah 27 jumlah bayi dengan berat badan lahir
rendah pada tahun 2010
4.2. Kurang Energi Protein (KEP)
Status gizi adalah tingkat kesehatan
seseorang atau masyarakat dimana salahsatu faktor yang mempengaruhinya adalah
makanan yang dikonsumsi. Hal ini dapat dinilai dengan ukuran atau parameter
status gizi seperti Metoda Kimia, Klinis dan Antropometrik. Penilaian Status
Gizi ini sangat penting untuk mengidentifikasi anak balita yang terkena
Kekurangan Energi Protein (KEP). Untuk melihat hasil kegiatan program gizi pada
bayi dan balita dapat dilihat seperti pada tabel berikut ini :
Cakupan Pemantauan Status Gizi Bayi dan Balita
di UPTD Puskesmas Indihiang Kota
Tasikmalaya Th. 2010
No
|
Uraian
|
Jumlah
|
1
|
Penimbangan Balita
|
|
|
- Yang ada
|
2374
|
|
- Ditimbang
|
2374
|
2.
|
Status Gizi Bayi & Balita
|
|
|
- Buruk
|
30
|
|
- Kurang
|
254
|
|
- Baik
|
2041
|
|
- Lebih
|
28
|
Sumber Data : Program Gizi UPTD Puskesmas Indihiang Kota
Tasikmalaya Tahun 2010
Tabel diatas menunjukkan bahwa program
gizi pada bayi dan balita di UPTD Puskesmas Indihiang Kota Tasikmalaya pada tahun 2010 ditemukan adanya penurunan balita gizi buruk dengan jumlah
30 balita dan gizi kurang sebanyak 254.
balita hal ini tentunya perlu mendapat perhatian mengingat hal ini akan
menentukan keadaan generasi yang akan datang.
4.3. Anemia Gizi Besi (AGB)
Adapun ibu Hamil yang mendapatkan tablet
penambah darah yaitu 90 tablet Fe ada sebanyak 699 orang
ibu hamil
Kekurangan Vitamin A (KVA)
Intervensi yang dilakukan untuk
meningkatkan status gizi, selain terhadap balita itu sendiri, juga dilakukan
terhadap ibu hamil dan ibu nifas melalui pemberian vitamin A dan Tablet
Penambah Darah (Fe).
Jumlah balita yang mendapat vitamin A pada
tahun 2010 adalah sebanyak 2374 balita atau sebesar 100% dari seluruh balita
yang ada.
B. PERILAKU
SEHAT
Pencapaian dalam aspek perilaku sehat di Kota Tasikmalaya dapat dilihat
dari berbagai indikator sebagai berikut
1. Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
Prosentase Rumah tangga yang
melaksanakan PHBS dari sejumlah yang termasuk Rumah tangga ber-PHBS ada 224 rumah
atau 97,39 %.
2. Posyandu
Posyandu adalah salah satu
bentuk upaya kesehatan bersumber daya masyarakat (UKBM) yang paling
memasyarakat dewasa ini. Posyandu yang mempunyai 5 program prioritas (KB, KIA,
Gizi, Imunisasi dan Penanggulangan Diare) mempunyai daya ungkit yang besar
terhadap penurunan angka kematian bayi.
Posyandu
dibagi menjadi 4 (empat) katagori, berikut ini pengkatagorian posyandu beserta
kriterianya masing-masing:
a.
Posyandu
Pratama
·
Penimbangan
< 8 kali dalam 1 tahun
·
Kader
< 5 orang
·
Cakupan
Desa Sehat < 50 %
b.
Posyandu
Madya
·
Penimbangan
> 8 kali dalam 1 tahun
·
Kader
³ 5 orang
·
Cakupan
Desa Sehat < 50 %
c.
Posyandu
Purnama
·
Penimbangan
> 8 kali dalam 1 tahun
·
Kader
³ 5 orang
·
Cakupan
Desa Sehat ³ 50 %
·
Ada program tambahan
·
Cakupan
Dana Sehat < 50%
d.
Posyandu
Mandiri
·
Penimbangan
> 8 kali dalam 1 tahun
·
Kader
³ 5 orang
·
Cakupan
Desa Sehat ³ 50 %
·
Ada program tambahan
·
Cakupan
Dana Sehat > 50%
Di UPTD
Puskesmas Indihiang Kota Tasikmalaya pada tahun 2009, dari 39
RW yang ada semuanya telah ada posyandu. Maka ditinjau dari segi geografis, semua RW telah
terjangkau oleh posyandu. Sedangkan apabila dikaitkan dengan jumlah penduduk,
tiap posyandu meliputi sekitar 100 KK. Adapun dalam segi kualitas, dari 41
posyandu yang ada,30 Posyandu yang
termasuk dalam kategori Posyandu Pratama (73,17%), kategori Posyandu Madya
sebanyak 4 posyandu (9,76 %), posyandu Purnama sebanyak 6 posyandu (14,63 %)
dan yang termasuk Posyandu Mandiri ada sebanyak1 Posyandu(2,44 %).
3. Pemanfaatan
Sarana Pelayanan Kesehatan
Tingkat
pemanfaatan sarana pelayanan kesehatan meliputi Puskesmas dan UPTD
Puskesmas Indihiang Kota Tasikmalaya selama empat tahun dapat
terlihat pada tabel di bawah ini
Tingkat Pemanfaatan Sarana Pelayanan Puskesmas
UPTD
Puskesmas Indihiang Kota
Tasikmalaya
Tahun
2006 s.d. 2009
No
|
Sarana
Pelayanan Kesehatan
|
Tahun
|
2005
|
2006
|
2007
|
2008
|
1
|
Di Puskesmas
- Jumlah Kunjungan
|
|
|
|
|
Sumber Data : SP3
dan SP2RS Tahun 2003 s.d 2008
4. Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM)
Pengertian JPKM secara operasional adalah pelayanan kesehatan paripurna dan
berjenjang dengan pelayanan tingkat pertama yang bermutu sebagai ujung tombak
dan ditopang dengan pembiayaan dimuka oleh para konsumennya melalui suatu badan
pengelola dana yang kemudian menerapkan pembayaran pra upaya kepada pemberi
pelayanan kesehatan. (Dirjen Binkesmas Depkes RI, 1998)
Di Kota Tasikmalaya, belum ada data yang lengkap mengenai jumlah penduduk
yang terlindungi asuransi kesehatan dan JPKM. Menurut data yang diperoleh dari
Sistem Pencatatan dan Pelaporan Puskesmas jumlah penduduk yang menjadi peserta
Jaminan Kesehatan Pra Bayar dapat dilihat pada tabel berikut ini
Jumlah Peserta Jaminan Kesehatan Pra Bayar
per Jenis di Kota Tasikmalaya Tahun 2008
No
|
JENIS JAMINAN KES PRA BAYAR
|
JML PESERTA
|
1.
|
ASKES
|
5372
|
2.
|
BAPEL & PRA BAPEL JPKM
|
0
|
3.
|
JAMSOSTEK
|
0
|
4.
|
ASKESKIN
|
5667
|
5.
|
DANA SEHAT
|
0
|
6.
|
LAINNYA
|
0
|
C. LINGKUNGAN
SEHAT
Menurut H.L. Blum Lingkungan merupakan aspek yang mempunyai pengaruh besar dalam kesehatan masyarakat selain
perilaku, fasilitas kesehatan dan faktor genetik. Berikut ini adalah
indikator-indikator yang berperan dalam Lingkungan Sehat.
1. Rumah
Tangga Sehat
Rumah yang sehat mempunyai peranan yang besar untuk menentukan status
kesehatan penghuninya. Sedangkan kriteria dari rumah sehat adalah rumah yang
mempunyai ventilasi, mempunyai lubang asap dapur, rumah yang beralaskan lantai,
mempunyai sarana air bersih dan mempunyai jamban keluarga.
Di Kota Tasikmalaya, pengkajian terhadap Rumah Tangga Sehat berdasarkan strata
belum dilaksanakan sehingga kita tidak bisa mengetahui gambaran rumah tangga
sehat berdasarkan stratanya.
Sedangkan untuk Rumah Sehat dari 224 KK atau 97,39%nya memiliki rumah
dengan kondisi yang memenuhi syarat untuk dikategorikan sebagai rumah sehat.
2. Keluarga yang memiliki Akses Air Bersih
Dari sebanyak 180 KK yang diperiksa,
semuanya memiliki Akses Air bersih, sedangkan jumlah KK seluruhnya ada 6352 KK
artinya yang memiliki Akses Air Bersih hanya sebesar 2,83%.
3. Keluarga
yang memiliki Jamban Keluarga (JAGA)
Dari sebanyak 230 KK
yang diperiksa, yang memiliki Jamban Keluarga (JAGA) ada sebanyak 5694 KK ATAU
88 % ,yang termasuk kategori sehat ada sebanyak 82 atau 15,49%.
4. Keluarga
yang memiliki Tempat Sampah
Dari sebanyak 230 KK
yang diperiksa, yang memiliki Tempat Sampah ada sebanyak 65 KK atau 1,01%, yang
termasuk kategori sehat ada sebanyak 230 .
5. Keluarga
yang memiliki Pengelolaan SPAL
Dari sebanyak 230 KK yang diperiksa, yang memiliki Pengelolaan SPAL ada
sebanyak 6140 KK atau 95%, yang
termasuk kategori sehat ada sebanyak 230.
D. PELAYANAN KESEHATAN
1. Sarana dan Prasarana Kesehatan
Pada tahun 2009 di Kota Tasikmalaya terdapat 20 Puskesmas sebagai sarana
penyedia pelayanan kesehatan dasar terhadap masyarakat dimana setiap kecamatan
telah memiliki 4 Puskesmas dengan rasio terhadap jumlah penduduk 1 : 35.669
Dari 20 Puskesmas tersebut 3 puskesmas merupakan puskesmas dengan tempat perawatan
(DTP) dan sisanya merupakan puskesmas tanpa perawatan (15 puskesmas). Puskesmas
Indihiang termasuk Puskesmas Tanpa Perawatan Sedangkan jumlah Puskesmas
pembantu yang ada sebanyak1.Puskesmas Keliling sebagai sarana penunjang
puskesmas dalam melaksanakan pelayanan di luar gedung ada 1 buah.
2. Pertolongan
Persalinan
Pertolongan
persalinan oleh tenaga kesehatan (Linakes) di UPTD Puskesmas Indihiang
Kota Tasikmalaya tahun 2009 adalah sebanyak sebesar 85,63
%.
3. Imunisasi
Dari 630 bayi yang
ada pada tahun 2009, tercatat sebanyak 657
bayi telah mendapat imunisasi lengkap (berdasarkan cakupan campak). Angka
tersebut telah melebihi target yaitu 104,29% Sedangkan jumlah bayi yang mendapat
imunisasi dirinci menurut jenis imunisasi berserta persentasenya dapat dilihat
pada tabel berikut ini.
Persentase Cakupan Imunisasi di UPTD PuskesmasIndihiang
Kota Tasikmlaya Tahun 2009
JENIS MUNISASI
|
JUMLAH
|
- BCG
|
676
|
- DPT 1+ HB1
|
662
|
- DPT 3 + HB 3
|
669
|
- Polio 4
|
664
|
- Campak
|
657
|
- Hepatitis B 3
|
Tidak ada data
|
|
|
4. Keluarga
Berencana
Dari jumlah Pasangan
Usia Subur (PUS) sebanyak 118182 orang pada tahun 2009 di Puskesmas Indihiang
Kota Tasikmalaya ada sebanyak 3,07 % peserta KB Aktif dan 0,18 % peserta KB
Baru. Untuk cakupannya dapat dilihat pada tabel berikut
Cakupan Program KB di
Puskesmas Indihiang Kota
Tasikmalaya
Tahun 2009
No
|
INDIKATOR
PROGRAM
|
JUMLAH
|
%
|
1
2
|
Akseptor
KB Baru
Akseptor
KB Aktif
|
207
3633
|
0,18
3,07
|
Sumber: Dinas
Kependudukan, KB dan Tenaga Kerja